Wednesday, August 08, 2012

Berdoa Sepanjang Ramadhan


Orang-orang yang berpuasa khususnya di dalam bulan Ramadhan memiliki beberapa kelebihan untuk berdoa. Ia termasuk dalam beberapa ketika dan situasi doa yang dimakbulkan oleh Allah.
Satu daripadanya ialah ketika menjelang waktu berbuka puasa. Doa yang tidak akan ditolak itu dilakukan pada saat berbuka. Abdullah bin Umar rhm. juga pernah meriwayatkan sebuah hadis dari Nabi yang bermaksud, “Sesungguhnya orang yang berpuasa itu mempunyai satu kesempatan berdoa yang tidak akan ditolak pada saat ia berbuka puasa.” (riwayat Imam Ibnu Majah & al-Hakim)
Selain dari waktu berbuka, di dalam bulan Ramadan juga memberikan banyak kesempatan waktu-waktu berdoa yang makbul. Antara waktu doa yang makbul ialah :


1. Ketika malam lailatul qadar.
Allah berfirman di dalam Al-Qur’an, “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sehingga terbit fajar”. (Al-Qadr : 3-5)
Imam As-Syaukani di dalam kitab Tuhfatu Dzakirin berkata bahawa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan.
2. Sewaktu berpuasa.
Orang-orang yang berpuasa termasuk orang yang doanya mustajab. Doa yang tidak akan ditolak itu dilakukan pada saat berbuka. Ini berdasarkan kata Nabi, “Ada tiga orang yang tidak ditolak doanya ; orang yang sedang berpuasa ketika dia berbuka, pemimpin yang adil dan doa orang yang dizalimi.” (Hadis Tirmidzi & Ibnu Hibban)
3. Sepertiga akhir malam.
Nabi Muhammad saw pernah berkata seperti yang diriwayatkan oleh sahabatnya Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga berbaki sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya”. (Shahih Al-Bukhari)
Termasuk sepertiga malam terakhir ialah waktu bersahur. Alangkah baiknya jika umat Islam memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum dan selepas makan sahur untuk membanyakkan doa berbanding menyambung tidur.
Berdoa atau meminta sesuatu dari Allah bukanlah sembarangan ibadah. Nabi pernah berkata dala sebah hadis bahawa, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia kepada Allah Ta‘ala melainkan doa.” (Shahih, Hadis Tirmizi)
Selain 3 waktu dan situasi yang dinyatakan, terdapat beberapa lagi waktu atau situasi doa seorang Islam itu mustajab. Antara yang disebutkan oleh ulama’ berdasarkan dalil ialah setelah selesai solat fardhu, waktu di antara azan dan iqamat, pada waktu azan, ketika hujan turun, ketika melihat orang dijemput ajal, pada hari Arafah dan beberapa situasi lain lagi.
Adab Berdoa
Salah satu faktor yang mempengaruhi sesuatu doa itu dimakbulkan atau tidak ialah adab-adab ketika berdoa. Pertama sekali ialah doa itu hanya ditujukan permintaannya kepada Allah dan tidak melalui perantara atau wasilah yang dilarang oleh agama. Termasuk wasilah atau tawassul yang di larang ialah menyeru-nyeru orang yang sudah mati atau menyeru-nyeru selain dari Allah.
Abdullah bin Abbas rhm menceritakan, “Saya pernah berada di belakang Nabi lalu beliau bersabda, “Wahai anak kecil, sesungguhnya saya akan mengajarkan kepadamu beberapa ucapan: Jagalah Allah nescaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah nescaya kamu akan mendapati Dia berada di depanmu. Jika kamu meminta maka mintalah hanya kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah.” (Sahih, Hadis Tirmizi dan Ahmad)
Kedua, merendahkan suara ketika berdoa, tidak di dalam hati tapi juga tidak menguatkannya. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Allah dalam Kitab-Nya, “Berdoalah kepada Rabb kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 55)
Ketiga, merendah diri kepada Allah ketika berdoa kepada-Nya. Ini seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maksudnya; “Kemudian Kami seksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang seksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebaikan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al-An’am: 42-42)
Keempat, tidak mendoakan keburukan untuk diri, keluarga, dan harta benda, kerana mungkin Allah Ta’ala akan mengabulkannya. Dalam sebuah hadis Nabi pernah bersabda yang maksudnya; “Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian. Jangan sampai doa kalian bertepatan dengan saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Dia akan mengabulkan doa kalian.” (riwayat Imam Muslim)
Kelima, berdoa bersungguh-sungguh atau memastikan permintaannya dan tidak mengembalikannya kepada masyi`ah (kehendak) Allah, karena hal itu menunjukkan kurang perhatiannya dia kepada doanya dan dia tidak terlalu berharap kalau Allah akan mengabulkan doanya.
Sabda Nabi maksudnya; “Jika salah seorang dari kalian berdoa maka janganlah sekali-kali dia berkata, “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau kehendaki.” Akan tetapi hendaklah dia memastikan apa yang dia minta dan hendaknya dia benar-benar mengharap, kerana Allah sama sekali tidak pernah menganggap besar sesuatu yang Dia berikan.” (riwayat Imam Bukhari & Imam Muslim)
Keenam, memulai dengan memuji Allah dan selawat kepada Nabi dan juga menutup doanya dengan ini. Fudhalah bin Ubaid rhm menceritakan bahawa, Nabi mendengar seorang lelaki berdoa di dalam solatnya, dia tidak memuji Allah Ta’ala dan juga tidak berselawat kepada Nabi. Maka Nabi berkata, “Orang ini tergesa-gesa,” kemudian beliau memanggil orang itu lalu beliau berkata kepadanya atau kepada selainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia berselawat kepada Nabi, kemudian setelah itu baru dia berdoa.” (riwayat Imam Abu Daud dan Imam Tirmizi)
Ketujuh, menggunakan perkataan yang jami’ dalam berdoa, iaitu yang lafaznya ringkas akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam lagi sangat luas. Contoh doa yang terbaik ialah doa yang diajarkan oleh Nabi karena beliaulah pemilik al-jawami’ al-kalim (kata-kata yang jami’). Isteri Nabi, Aisyah binti Abu Bakar rhm. Menceritakan bahawa Nabi menyukai doa-doa yang singkat tapi padat maknanya, dan meninggalkan selain itu.” (riwayat Imam Abu Daud)
Dan beberapa adab-adab umum yang lain seperti mengulangi doa sebanyak tiga kali, menghadap ke arah kiblat, berwudhu sebelum berdoa dan mengangkat dua tangan ketika berdoa.rhm.
Beberapa sarjana Islam telah menghimpunkan doa-doa dan zikir dari Al-Qur’an dan hadis. Antara yang paling dikenali termasuklah kitab al-Adzkar karangan Imam Nawawi dan ia sudah diringkaskan oleh sarjana mutakhir Dr Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani dengan judul Hisnul Muslim.
 *Penulis ialah Ketua Biro Penerbitan, Sekretariat Ilmuan Malaysia (iLMU)
Siaran akhbar Sabtu, 04 Ogos 2012

No comments: